Tadabbur surat At Tahrim ayat 10-11

Kadang-kadang kita menjadikan lingkungan sebagai alasan yang menghalangi kita untuk mendapat hidayah dan berbuat kebaikan serta menjadi orang baik.

Sementara istana, bahkan ranjangnya Fir’aun menghasilkan seorang perempuan yang menjadi salah seorang dari empat wanita utama yang mencapai kesempurnaan. Bahkan dialah perempuan pertama yang sampai kepada derajat sempurna.

Rasulullah bersabda: “Banyak di antara laki-laki yang sampai kepada kesempurnaan, dan tidak ada yang sampai kepada kesempurnaan dari perempuan kecuali Asiah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid….”
Rasulullah juga bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

“Perempuan ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiah binti Mazahim istri Fir’aun”.

Asiah istri Fir’aun menjadi perempuan percontohan yang menjadi tauladan bagi seluruh perempuan sepanjang zaman. Bahkan juga tauladan bagi laki-laki dalam keteguhan iman.

Allah berfirman dalam surat At Tahrim 11:

“Dan Allah membuat istri Fir’aun percontohan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”.

Di samping itu ada lagi seorang perempuan tauladan dalam keteguhan iman keluaran istana Fir’aun, yaitu Masyithah (tukang sisir rambut putri Fir’aun), yang digoreng oleh Fir’aun bersama seluruh keluarganya. Yang kuburannya mengeluarkan bau harum dan kecium oleh Rasulullah wanginya di malam Isra’ dan Mi’raj.

Masih ada lagi tauladan bagi laki-laki keluaran istana Fir’aun, bahkan masih tergolong keluarganya. Kebengisan dan zalimnya Fir’aun tidak menghalanginya untuk memperoleh hidayah dari Allah.

Allah berfirman dalm surat Ghafir 28:

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah? Padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang yang pendusta maka dialah yang menanggung dosa dusta itu, dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian bencana yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu….”

Dari kenyataan ini, tidak ada alasan bagi kita untuk menyalahkan lingkungan untuk tidak berbuat baik dan menjadi orang baik. Betapa beratnya lingkungan yang dihadapi oleh orang-orang yang sudah diabadikan oleh AlQur’an tentang keteguhan imannya. Karena itulah mereka pantas menjadi tauladan bagi umat manusia yang datang sesudahnya.

Hidayah Allah adalah sesuatu yang sangat misterius, yang akan diberikan-Nya kepada siapa saja yang menginginkannya. Dia tidak bisa dihalangi oleh kokohnya tembok istana, jeruji besi penjara, bahkan kobaran api dan siksaan yang menyakitkan. Sebaliknya, dia juga tidak terjamin akan masuk ke dalam hati sekalipun berada pada lingkungan terbaik dan hidup berdampingan dengan orang-orang baik.

Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, tidak mendapatkan hidayah sekalipun seranjang dengan manusia utama. Anak Nabi Nuh juga durhaka sekalipun dididik oleh seorang Rasul Ulul ‘Azmi. Abu Thalib paman Rasulullah yang baik tidak juga mendapat hidayah sekalipun selalu mendampingi beliau dalam berdakwah.

Makanya kita tidak perlu heran bila ada di antara jebolan Mesir dan Arab Saudi menjadi penghalang kemajuan Islam. Suka mempermainkan dan memperolok-olokkan agama. Bahkan memerangi dakwah kebenaran serta menjadi ikon sebagai penyesat umat.

Dan sebaliknya, justru pembela dan pejuang Islam itu munculnya dari jebolan Amerika, Eropa dan Jepang. Labelnya memang bukan ahli agama, tapi hatinya dipenuhi sinar hidayah yang bisa memancar kepada lingkungan sekitarnya.

Terimalah hidayah, karena ia ada di manapun, sekalipun di atas ranjang Fir’aun. Dan buanglah kesesatan, karena ia selalu mengintai, sekalipun di kamar seorang rasul.

Hidayah tidak bergantung kepada tinggi rendahnya ilmu, tapi kepada kebersihan dan kesiapan hati yang mau menampungnya.

Tidak perlu bangga dengan ketinggian ilmu dan merasa remeh atas kesederhanaan pengetahuan. Kita tidak tahu, hati yang mana lebih dekat kepada Allah dan dicintai-Nya.

Ya Allah, teguhkanlah kami di atas jalan yang lurus.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memfirasati Zaman

Menemukan kadiah-kaidah yang mengatur jalannya sejarah akan mengantar kita pada temuan lain: memfirasati zaman. Kaidah-kaidah sejarah itu adalah sunnatullah fil hayat, hukum-hukum kehidupan yang permanen, berlaku sepanjang waktu. Dari situ kita bisa menilai apakah hidup kita sedang berjalan naik, atau sedang berjalan datar, atau sedang terjun bebas ke bawah.

Menafsir berbagai peristiwa kehidupan dengan teks seperti menemukan gambaran utuh dari wajah kita di depan sebuah cermin besar yang terang benderang. Di dalam kerangka teks semua peristiwa itu terangkai sebagai satu kesatuan yang berjalan pada sebuah alur sejarah yang jelas, bukan serpihan kisah yang tidak saling terhubung. Merangkai peristiwa-peristiwa itu seperti mengkonstruksi bangunan waktu untuk membaca apa yang disebut orang-orang bijak sebagai tanda-tanda zaman.

Ada zaman misalnya, dalam kehidupan manusia, yang disebut dalam teks Qur’an dan Sunnah sebagai zaman fitnah. Zaman itu hadir dengan ciri-ciri utama seperti: waktu terasa berlalu begitu cepat, merajalelanya kebodohan, matinya orang-orang berilmu, munculnya pemimpin yang kekanak-kanakan, berkurangnya minat orang berbuat kebaikan, kecenderungan orang menjadi semakin pelit, banyaknya pembunuhan dan seterusnya. Imam Bukhari dalam Shahihnya menyebut semua ciri itu dalam Kitab Fitnah.

Jika dalam suatu kurun waktu tertentu peristiwa-peristiwa itu bermuncul secara berturut-turut dan atau bersamaan, maka itu adalah tanda-tanda zaman fitnah. Dalam situasi seperti ini, kata Nabi SAW: “Yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, yang berjalan lebih baik dari yang berlari; siapapun yang menghampiri fitnah itu pasti akan dihancurkan oleh fitnah itu. Maka siapapun yang bisa menemukan tempat untuk bersembunyi atau berlindung, hendaklah ia segera melindungi dirinya daripadanya” (Imam Bukhari dari Abu Hurairah)

Cobalah membaca berbagai berita di media tentang berbagai peristiwa di sekeliling kita, lalu rangkai semua itu dalam sebuah rekonstruksi yang menyeluruh, kemudian cobalah bawa ke hadapan cermin teks yang terang benderang, lalu berpikirlah: Apakah isyarat Alloh dalam semua peritiwa itu? Ke manakah zaman sedang berjalan?

Setiap peristiwa kehidupan bukanlah serpihan yang tidak saling berhubungan. Peristiwa-peristiwa itu adalah rangkaian panjang yang digerakkan oleh kaidah-kaidah tertentu –berupa nilai-nilai, ide-ide, kebiasaan-kebiasaan, tradisi, budaya. Itu terjadi secara sangat dinamis, dan biasanya berlangsung dalam sebuah satuan waktu yang lebih besar.

Bisakah misalnya, Anda membaca bagaimana medan-medan perang yang bertebaran begitu banyak di abad yang lalu menentukan arah zaman kita di abad ini?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

catatan dari seorang adik di bem kema unpad

Catatan ini saya persembahkan untuk pahlawan-pahlawan 2007 yang telah menjadi kakak saya di Keluarga Sigap. Buat saya kita adalah keluarga, entah apalah itu pendapat orang kalau keluarga harus bersama setiap saat, tertawa berbagi kebahagiaan, dan memberikan perhatian penuh satu sama lain. Buat saya keluarga adalah skenario Allah, semua kelebihan, kekurangan, kekecewaan, rasa kesal, itu adalah bagian dari rasa kekeluargaan. Dan jika ditanya momen apa yang paling berkesan di Sigap, tentu saja Raker. Karena disana saya mulai mengenal kalian, saya yang hanya diam, tersenyum, dan menjadi pemerhati. Mengenal yang ini, tak kenal yang itu, kenalan tadi pagi, sorenya udah ‘eh, siapa ya?’😀.

Setelah ini, mungkin kalian sudah bukan ‘bocah kampus’ lagi, fokus Tugas Akhir dan berharap toga terpasang secepat mungkin. Beberapa sudah menyiapkan target pasang janur kuning atau menyusun rencana melanjutkan pengasahan intelektualitas. Atau bahkan sudah menjadi seseorang yang berkarir dan bekerja untuk dibayar. Tapi perjuangan terakhir kalian di dunia BEM membuat saya lebih sering bertemu kalian dan berbagi keresahan bersama kalian *jahat dah kalian ninggalin saya*. Bagaimanapun kalian adalah keluarga saya, rasanya ingin memeluk satu persatu *maaf yang ini ikhwan ga termasuk* dan mengucapkan banyak hal. Teruntuk kalian …

 

–    Nafielah Mahmudah; Ketika ditanya siapa yang paling saya sayang di Keluarga Sigap, jawaban Sarah adalah Teh Fae, sampai sekarang masih Teh Fae *asik gocap hehe*. Sarah selalu percaya skenario Allah pada Sarah selalu menjadi hal terindah untuk dikenang, pahami, dan ambil hikmahnya *sendiri dong Teh Lia di kamar ga ada Teh Hikmah :D*. Sssst, serius nih serius, dan pilihan apapun yang akhirnya Teh Fae jalani selalu memberi banyak ibroh buat Sarah, Sarah jadi paham semua proker Kominfo dan Sarah jadi dekat dengan semua senior karena banyak meminta bantuan mereka, harusnya Sarah ngadu ke Tom Felton apa ya hehe. Apapun opini orang tentang Teh Fae, buat Sarah Teh Fae tetep keren *asik traktir WS haha*. Perjalanan menuju Polban, ladies night di rumah Teh Tya, ngerecokin kerjaan Teh Dika di kosannya, makan pecel lele depan GKPN, sampai begadang bersama nyeteplesin interval di kosan Teh Lia. Semua waktu-waktu kebersamaan itu sangat berharga buat Sarah *hiks*.

–    Muhammad Sayyidi; Yang memberikan nasehat pertama pada Sarah di teras sekre pasca Raker, berlanjut pasca rapat Interval, pas lagi Logika KPK, pas lagi Buper, pas-pas yang lainnya, dan terakhir pas ngedit Interval terakhir *bawel banget dah nih orang haha*, tapi bener nun sewu banget buat semua petuahnya ya, De😛. Yang hobi nitipin tas ke saya, dan ngapunten nggeh pisan nya balikin tas saya atulaah -_-. Yang ikut ngerangkul Sarah ketika Sarah kabur-kaburan di liburan semester *pelis banget lah saya susah dapet ijin keluar kalau udah di rumah, makanya alibi tinggal di Calengka*. Yang turun tangan bantuin kerjaan saya di gazebo keperawatan, di kantin asrama, dan di dunia maya. Dan yang akhirnya kita mengalami masa-masa ‘subhanalloh sekali’ menjelang Kongres hingga berkali-kali mengucapkan, “Bodor pisan nya.”, “Aya-aya wae ieu teh.”, dan “Huwaaaa, shock😀.”. Namun memang ucapan Akang bener, ketika kita bisa melakukan banyak hal maka maksimalkan apa yang bisa kita perbuat.

–    Haerul Imam; Ketika masih di fakultas bikin Sarah antipati, karena Akang adalah Komdis Sarah di Mabim. Tapi ketika bersama-sama menjadi Keluarga Sigap menjadi salah satu orang yang sangat perhatian dengan akademik Sarah *maklum adik NPM* termasuk ketika Sarah meracau kenapa Sarah harus jadi perawat, bertemu orang-orang sakit dan tidak sedikit yang nyaris mati, atau keluarga-keluarga pasien dengan wajah frustasi sampai benar-benar berteriak frustasi tingkat kacau. Tapi memang benar, kita yang harus menguasai diri kita, sekarang jadi apa nanti mau jadi apa? Jika semua karena Allah, Insya Allah berkah.

–    Dika Permatahati; Keluarga Sigap yang pertama kali Sarah SMS karena Sarah mengirim berkas via email di jam-jam terakhir OR, dan Teh Dika juga menjadi orang pertama yang bisa membuat Sarah mengeluh *sumpah Teh waktu itu lagi cape aja*. Buat Sarah, Teteh wonder woman pisan, ga pernah nunjukin wajah capenya meski semua urusan sudah muter-muter di kepala tapi tetep tersenyum dan nyapa, “Hei, Sarah …”dan saya ga bisa bantu banyak selain beresin sekre kalau sempet. Jadi inget, Sarah pernah salah ngasih cap buat proposal, dodol banget lah, sebenarnya Sarah selalu berharap ga pernah ada urusan dengan surat menyurat, ribet banget Teteh hehe. Salam buat adiknya ya Teh, meuni lungguh pisan ii

–    Tya Nur Salma; Selalu pengen teriak, “Teh Tyaaaa …” setiap ketemu. Kegiatan Koma menjadi momentum awal kedekatan kita *beuh bahasanya*, kalau tidak salah pas makan di kantin Statistika karena Sarah nanya ke Teh Dika, “Teh Dika rencananya mau nikah kapan?” dan Teh Tya heran gitu kenapa ga ditanyain hal yang sama ehehehehe …  Teh Tya itu salah satu Menteri yang jarang Sarah ikutin kegiatannya, termasuk pada kegiatan Prabu dan SOL, maaf ya Teh, Teteh tahu kan kalau Sarah sempet pasti dibantuin tapi matur nuwun pisan karena Teteh udah nemenin Sarah keliling fakultas buat nyebarin ucapan terima kasih. Yang paling terkenang ketemu kakak Sarah yang satu ini selalu bikin Sarah mendadak pengen pake kerudung panjang dan bawa-bawa al-Quran hehehe, Sarah emang ga akhwat banget sih Teh, masih proses tenang aja.

–    Dinni Faridh Faturrahman; Menko Sarah yang kerjaannya banyak banget tapi masih selalu nyempetin nelpon padahal beda operator *kenapa ga pake IM3 juga sih Kang?* dan akhirnya ga jawab pertanyaan saya mengenai Bivak *ga penting juga sih*. Yang selalu setia ngasih Sarah kerjaan dan setia juga nanya, “Ibu kamu (Teh Fae) kemana?”. Yang paling terkenang, ketika sama Kang Sayyidi dan Kang Randi mengunjungi Sarah di Garut. Huwaaa makasih banget loh Kang, Sarah merasa jadi anak bungsu yang keinginannya dipenuhi ketika kalian datang, asik asik.

–    Randi Purnama; Sarah selalu heran, ini Pak Wapres kok apa-apanya lucu banget sih. Berawal dari pasca Raker, permainan aneh yang kita mainkan dari mesjid Sumedang hingga sampai di Nangor kelakuan Kang Randi bikin Sarah speechless dan berpikir, “Kecilnya pasti ngegemesin, mending jadi kecil lagi deh biar bisa dijitak :D”. Meski semua mengatakan Kang Randi yang paling membantu atau Kang Randi yang paling kelihatan, tapi maaf-maaf saja ya Sarah ga pernah berpikir begitu, mungkin karena Kang Randi akhi-akhi banget jadi Sarah ga pernah berani minta tolong kalau ada apa-apa. Dan ternyata nama ayah Kang Randi sama kayak nama paman saya, Mang Ateng, guru SMA-nya Kang Randi. Eaaa, satu masa lalu kan kita, Kang😀.

–    Asep Sahidin; Hehehehehe, selalu bikin Sarah senyum kalau ketemu, ketawa ngakak malah. Awalnya ga ngerti ketika banyak orang yang bilang duet Kang Randi sama Kang Asep itu kocak abis, tapi saya baru ngerti ketika melihat adegan Kang Randi sama Kang Asep berebutan sup buah di Rengganis *cacat banget lah*. Saya selalu merasa beruntung karena bisa bantuin kerjaannya Kang Asep, NSE, Fornas, sama Buper, tiga-tiganya Sarah hadir loh dan sepertinya itulah yang bikin Sarah jadi deket sama Kang Asep, ting ting ting. *cepetan sih Kang undangannya mana :D*

–    Kantry Maharani; Setiap ucapannya selalu bikin Sarah jadi pengen banyak baca dan nonton acara debat. Ketika Raker, ketika acara TKW-ku sayang TKW-ku Malang, ketika Konferensi FP, ketika kajian RUU PT di Keperawatan. Wah, kalau ada KFC (Kantry Fans Club), Sarah mau deh ikutan di garda terdepan. Dan ternyata janji Sarah sama Teh Kantry kalau Sarah mau 4 tahun di BEM sepertinya akan menguap begitu saja karena Sarah kuliah juga dipaket 3,5 tahun nih Teh. Seneng banget pas sama Teh Kantry ngeledekin Kang Edi yang galau mau ikutan Indonesia Mengajar tapi ga boleh nikah dulu, kocak banget deh.

–    Dhia Ulhaq; Di hari ketika Sarah diwawancara Teh Kantry dan diisengin minta nyari orang bernama Yaul dengan polosnya Sarah mendatangi sekre dan nanya orang, “Maaf, Kang. Sarah nyari orang yang namanya Yaul. Sarah ga tahu itu cewek apa cowok.” Dan dia jawab, “Saya Yaul.” *gubrak* ngerasa pengen jedotin jidat dan berteriak ‘aaargh saya berdosa, bunuh saja saya’ *lebay*. Akang-akang yang selalu rajin senyum dan nanya, “Apa kabar Sarah?” ini salah satu orang yang hobi nanyain cerpen Sarah *kabar cerpen Sarah baik-baik saja Kang, baru dikasih makan tadi* dan maaf analisa Kang Yaul kalau Sarah tipe wanita yang suka pada pria pendiam itu kurang tepat, pria pendiam bisa bikin Sarah makin skeptis kali Kang.

–    Darlyanti Sari; Terima kasih untuk malam-malam ketika Kongres yang kita lalui bersama *ehm* dan saat-saat menghitung keuangan atas ke bawah, bawah ke atas, atas lagi, bawah lagi, ulangi lagi, lalu syntax error *parah*. Lagu ‘Victoria … garuda di dadaku’-nya terngiang banget deh, Teh *hahaha ngakak deh pasti* dan untuk kebersamaan kita di Damri selepas Teteh pelatihan keuangan dan saya pulang dari SPMI, obrolan panjang kita menjadi salah satu momen yang Sarah kenang.

–    Haikal Ramadhan; Wah menteri yang paling cool nih, tapi kewalahan juga ketika pas pengangkatan Kang Imam PKM jadi Dirjen saya nyeletuk iseng, “Menteri PKM sombong😛.” Sebenarnya saya sangat ingin ikut kegiatan-kegiatan PKM, ga tahu kenapa susahnya ada-ada saja akhirnya cuma ikut acara buka bersama bareng anak yatim di Rancaekek, seneeeeeeng pisan ^_^.

–    Edi Irawan; Kakak saya yang paling kenal sama Teh Rahmi dan keukeuh bilang kalau saya dan Teh Rahmi itu bedanya sejauh bumi dan langit, yang satu nunduk-nunduk kayak puteri malu, yang satu jingkrak-jingkrak kaga tahu malu *maklum atuh Kang beda asuhan*. Akang yang mengenalkan saya apa itu pengabdian, pengabdian yang benar-benar pengabdian. Keren beud lah, Kang, Salam Jatinangor Satu!

–    Arinal Haq Haqo (not ’Andre’nal); Kata-kata ‘De Sarah’-nya itu loh Kang, bikin Sarah meleleh kaya kutub dikasih kemarau haha *apa banget*, paling merasa bersalah karena ga ikut kegiatan Unpad Gathering *ga usah dibahas lagi deh ya*. Percaya deeh Kang Are emang paling yo’i banget untuk masalah per-ukhuwah-an juga totalitas dan selalu jadi salah satu objek analisis kepribadian yang sering Sarah perhatiin di Sigap *tunggu saja hasil analisa kacau saya*. Sempet pusing waktu tiba-tiba dimintain dokumentasi kegiatan Damri buat LPJ tapi alhamdulillah saya bisa bantu meski ga maksimal hehe.

–    Irwansyah; Meski bukan angkatan 2007 tapi karena udah so’ bikin skripsi dan goodbye di BEM ya Sarah masukin sini aja deh. Kita pernah debat masalah kolektivitas dan individualitas ya, ga tahu kenapa sih ngomong sama Akang yang satu ini bawaannya pengen sewot terus hehe. Tapi makasih ya, meski bukan Menko Sarah, meski hanya beberapa bulan kenal, meski siapa Sarah dan siapa Anda tapi Sarah bangga bisa kenal sama Kang Irwan sampai bikin jaket Kang Irwan basah abis sebelum berangkat ke Jakarta sama Kang Asep, dan kayaknya bikin Kang Irwan masuk angin ga ketulungan😀 *tolong ya Sarah ga minta dipinjemin*.

–    Inna Juliana; Kakak saya yang paling modis dan ngeksis hehe. Kenapa kenangan terakhir kita harus pas Teteh bikin motor Teh Dirun ngegubrak ya *ikut shock deh, Teh*. Tapi emang seneng banget bisa kenal Teh Inna yang selalu banyak cerita udah kayak mpok google yang semua informasi dan pembahasan ada deh ^.^v.

–    Adib Hasan; Pertama deket di SPMI dan awalnya setiap ketemu selalu lupa namanya siapa. Akang yang selalu ngajak diskusi serius tapi ketika saya ikut serius malah dibecandain *kesel deh kadang*. Terus pernah barengan di depan ngatur kegiatan SAK. Momen terakhir ketika Kongres, pas ga diijinin ngomong sama Presidium dan Peserta Penuh, Kang Adib langsung menghadap saya, “Sar, banyak banget yang mau saya omongin. Suka ga tenang nih kalau ga diomongin. Kamu nanya ke saya deh sekarang, biar saya ngomong dan ngejelasin ke kamu.” Huwaaa, ampun deh Kang, Sarah dikasih kuliah sidang pro bono gini.

–    Rifki Asrul Sani; Inget ga Kang, waktu awal-awal kepengurusan kita sempet slek dan itu bikin Sarah bete abis pengen nyakar kucing *untung ga jadi*. Tapi makasih banget ya, Kang Asrul *melalui masalah kita* bikin Sarah makin dewasa dan belajar bersikap lebih cerdas emosionalnya, hahaha padahal ga ada masalah apa-apa juga. Dan terima kasih karena Kang Asrul-lah yang akirnya bisa mempertemukan saya dengan Kang Sayyidi di Gor Pakuan pas Sarah pusing muter-muter cari dia tanpa hape.

–    Maritsa Nur Fatwa; Ibunya para pahlawan Kesma. Cara Teh Icha ngomong yang lucu semu cadel hehe, gemes deh Teh. Cuma sempet bantuin Kesma pas lagi advokasi Maba ngasih bahan propaganda kain putih sama phylox, huh … padahal Sarah pengen bantu banyak, ternyata cuma itu yang Sarah bisa.

–    Rachma Ayoe; Awal-awal kepengurusan jujur saja suka ketuker-tuker sama Teh Icha hehe, soalnya sama-sama farmasi 2007 dan sama-sama di Kesma. Kenangan yang paling membekas kayanya pas Edufest aja, kita emang ga terlalu deket tapi seneng selalu disapa sama Teteh.

–    Reina Yulianti; SDMK-nya Kominfo yang SMS motivasinya suka bikin pengen beraktfitas seharian dan ningkatin semangat, sampe ngedadak jadi muncul api membara dari mata dan tumbuh sayap yang bisa bikin Sarah terbang bolak-balik DU-Jatinangor *sori-sori jadi hiperbola gini*. Inget ga Teh, kita pertama kenalan pas acara masak-masak dan ultah-nya Kang Haikal itu.

–    Bachrudin Harbeni Irhas; Apa ya kenangan kita, cuma pas di kegiatan Peduli Jatinangor pas Akang mau bikin spanduk kegiatan Seminar Hari Pahlawan di laptop saya dan tolong ya Kang, falsh disk-nya meninggalkan jejak-jejak ga jelas di laptop tercinta saya.

–    Rahadiyen Randi; Kaget waktu tahu Kang Randi yang ini angkatan 2007 juga, soalnya masih imut-imut *eaaa*.  Apa lagi nih yang mau Sarah tulis, mungkin karena ga se-menko apalgi sedepartemen Sarah jadi ga terlalu punya momen berkesan nih hehe.

–    Dilaekha Ryan Permata; Merasa berdosa sekali pas malam Kongres saya nanya ke Teh Fae, “Dilaekha Ryan Permata siapa Teh?” hehehehe, tapi ketika ditunjukan fotonya Sarah ingat kok kita pernah bertegur sapa dan bercengkrama entah itu kapan dan dimana *lha berarti ga ingat dong*.

–    Aji Wibowo; Ini nih salah satu muka yang sering Sarah lihat tapi ga tahu nama juga, dan saya juga baru tahu Akang angkatan 2007 hehe. Sama kayak Kang Rahadiyen Randi, no komen deh, tapi Sarah tetep mau nyantumin nama Akang disini ^_^.

 

Terima kasih …

Terima kasih untuk pergerakan kepahlawanan yang begitu memukau, kita telah mengisi kanvas bersama dan melempar keringat menjadi lautan kenangan. Sungguh, ditinggalkan oleh kalian menjadi benturan gejolak rasa dari semua perasaan *lebay ya Sarah*. Dan untuk kebersamaan kita, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih Allah, cintaku penuh pada-Mu, skenariomu selalu indah bagiku.

Apapun itu, dimanapun itu, seperti apapun itu. Tidak akan ada Teh Fae yang lain, tidak akan ada Teh Tya yang lain, dan tidak akan ada Teh Dika yang lain *ini genk ladies night* dan kalian-kalian yang lainnya. Kalian sudah mengisi ruangan-ruangan tersendiri dalam benak dan perasaan saya. Teruslah di jalan kalian dengan semangat yang sama dan saya akan tetap di jalan saya dengan semangat yang kalian wariskan.

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih …

 

Penuh cinta karena Allah,

Sarah Nurul Khotimah

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kan sudah pernah kubilang padamu: aku tidak bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku mencintaimu dengan semua kerumitan itu, pelik yang berkelip pelangi dari tiap rongga.  Helvy Tiana Rosa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dimana Rumahmu Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu,Mustahil kuperoleh ridhaNya…

-Dani Ferdian- Menteri dalam Negeri Bem Unpad 2010

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengantar LPJ Menko Internal Bem Unpad 2011

Di bawah genggam kuasa-Nya dan limpahan nikmat-Nya yang tak terhingga, mari kita panjatkan puji dan syukur dari lubuk jiwa ke hadirat Allah SWT yang telah memberi anugerah terindah kepada kita semua yang tak terhingga. Shalawat dan salam senantias dicurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang menapaktilasi langkah-langkah perjuangannya hingga akhir zaman.

Perjalanan Sang waktu menyadarkan semua insan bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini akan berakhir. Maka terbentuklah kenangan yang memenuhi ruang memori kita, tentang apa yang sudah kita pikirkan, katakan, dan kerjakan dalam mengisi sang waktu. Tentu saja dengan segala nilai, makna dan penghayatan yang menyertai semua itu. Namun, tidak hanya kenangan, di sana ada suatu masa ketika kita harus mempertanggungjawabkan seluruh pilihan hidup atas anugerah waktu tersebut.

Akhir dari suatu perjuangan adalah awal dari perjuangan lain yang lebih besar. Segala romantisme dalam segala pergerakan dan perjuangan ini tentu sudah memberikan pembelajaran dan proses pendewasaan dalam berpikir dan bergerak. Itulah salah satu tujuan dari kemahasiswaan yang dilakukan selama ini. Dengan tentunya terus berjuang dalam kebenaran yang berlandaskan kepedulian pada masyarakat serta dengan berpegangan pada intelektualitas dan moralitas perjuangan.

Mahasiswa Unpad adalah mahasiswa terbaik yang berkumpul dari seantero penjuru Indonesia. Dimana di kampus ini mereka dibina untuk menjadi manusia yang paripurna dengan segala lingkungan pendidikan yang kondusif. Ini menjadi sebuah kesempatan tersendiri bagi mahasiswa Unpad untuk mengembangkan diri dan idealismenya dalam rangka menyiapkan dunia pasca kampus yang lebih nyata dan jauh dari kenyamanan yang dirasakan di kampus Unpad

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran sebagai wadah pemersatu potensi dan gerak mahasiswa Unpad adalah organisasi besar yang mampu melayani dan mengapresiasi mahasiswa Unpad dan dalam bersamaan mampu menginspirasi Indonesia dengan karya yang dibuat. Dengan potensi besar ini sudah sejatinya Keluarga Mahasiswa Unpad diberikan tantangan besar untuk bisa menjawab permasalahan bangsa.
Indonesia adalah negara dengan segala potensi untuk menjadikannya sebagai satu kekuatan daya saing yang membuat Indonesia mampu berada setara dengan negara besar lainnya. Potensi manusia, dan sumber daya haruslah dikembangkan dan dioptimalkan dengan baik untuk kesejahteraan bangsa.

Semua mimpi ini akan menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah jika bisa diwujudkan dalam kebersamaan dan totalitas perjuangan. Pada akhirnya, kami hanya ingin menginspirasi Indonesia, ingin membuat Unpad bersinar, dan kami ingin melihat senyum masyarakat Indonesia

Bandung, 30 November 2011
Menteri Koordinator Internal Bem Kema Unpad 2011

Irwansyah

Posted in Uncategorized | Leave a comment

manusia dan sejarah

Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap manusia , untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya?

Sejarah, pada mulanya menggunakan deret waktu. Di sini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah: kita semua sejarah, dan tak ada yang lepas dari padanya.

Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah sebuah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada sebuah tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi ke manakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah engkau menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Dan siapakah tetes-tetes air yang menjadi gelombang itu?

Riak-riak itu ialah tetes-tetes yang menyatu dalam laut sejarah karena waktu. Dan gelombang itu, ialah manusia-manusia sejarah. Tak semua air menjadi gelombang, sekalipun semuanya punya peluang yang sama menjadi gelombang. Lalu apakah yang membuat tetes-tetes air itu menjadi gelombang?

Angin!

Inilah yang menanamkan ‘kehendak’ pada tetes-tetes air itu untuk menjadi gelombang. Ketika ‘sentuhan’ angin itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat. Angin itu adalah iman. Iman, terserah ia diberikan kepada kebenaran atau kebathilan, adalah rahasia di balik semua keajaiban sejarah. Iblis-lah yang menanamkan iman kepada kebathilan dalam diri manusia, hingga ia berkehendak menciptakan dauatul bathil. Dan, rasul-rasul sepanjang sejarah, adalah utusan Allah yang bertugas menanamkan iman kepada kebenaran dalam diri manusia, hingga lahirlah daripadanya kebenaran yang hakiki.

Semua manusia besar yang pernah hadir dalam sejarah, kata Sayyid Quthb, selalu mempunyai kelebihan yang amat menonjol pada kekuatan jiwa. Rahasia ini pula yang kita tangkap dari strategi Rasulullah SAW. ketika beliau ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi manusia. Apa yang paling menonjol pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW bukan terutama kecerdasan, sekalipun itu ada, tapi adalah iman.

Kata iman dalam pembahasan Al Qur’an, selalu membawa nuansa ‘gerak’ yang amat dalam. Iman adalah landasan abadi di atas mana akal melaju menaiki tangga menuju angkasa. Iman adalah rahasia darimana raga memperoleh kekuatan yang tidak diketahuinya. Kekuatan gerak pribadi bermula ketika iman merasuki jiwa, menggelorai hati, lalu bergemuruh dalam setiap sisi instrumen kepribadian kita. Bila keadaan yang sama merasuk ke dalam jiwa dan hati sebuah masyarakat secara kolektif, engkau niscaya akan menemukan gelombang yang dahsyat dalam sejarah.

Setiap kita, manusia, selalu akan memperoleh tempat dalam sejarah, bila kita mau membentangkan benang merah, yang menjalin gemuruh kehendak dalam jiwa dengan gemuruh gerak ombak dalam laut sejarah.

Maka saat-saat ’pasang’ dalam sejarah islam, kata Syekh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Dan saat-saat ‘surut’, sebaliknya, selalu bergerak sejajar dengan kelemahan iman.

Posted in Uncategorized | Leave a comment