Islam: Sistem yang komprehensif dan universal – Serial 1

Rahmatan Lil ‘ Alamin

Jika kita merenung tentang keberadaan manusia di bumi ini dengan segala macam pencapaiannya, pertanyaan yang muncul, akan kemanakan setelah semua ini? Apakah keberadaan manusia serta apa-apa yang telah dicapainya akan hilang begitu saja seperti matinya api dari lilin yang ditiup? Kesadaran akan eksistensi akan membawa manusia pada sisi terdalam dari wujud manusia itu sendiri. Sepanjang sejarah manusia, sudah banyak orang yang mencoba mencari formulasi guna memuasakan “rasa kesadaran ini”. Namun karena formulasi yang mereka ciptakan berdasarkan pemahaman yang tidak utuh terhadap manusia, karena mereka sebenarnya tidak mengetahui hakikat manusia, hanya akan menempatkan manusia pada posisi yang tidak sesuai dengan semestinya.

Islam merupakan “sesuatu” yang dicari manusia. Dia datang dari yang menciptakan manusia, kehidupan, dan segala permasalahnya yang tentu lebih mengerti akan eksistensi manusia tersebut. Sebagai bentuk dari kasih sayang kepada manusia, Allah swt yang telah menciptakan manusia, alam semesta beserta isinya, memberikan petunjuk agar dalam mengarungi kehidupan ini manusia tidak tersesat dan selalu berada pada kesadaran akan eksistensinya. Petunjuk tersebut dibawa oleh para pembawa pesan Allah (Rasul) yang intinya berisi ketentuan akan ketuhanan(aqidah), ketentuan tentang keluhuran budi pekerti manusia (akhlaq), serta ketentuan tentang rule of game dalam menjalani kehidupan itu sendiri (syariah). Aqidah dan akhlaq sifatnya konstan dan tidak mengalami perubahan. Pemahaman tentang Allah serta definisi tentang berbuat baik selalu sama dari waktu ke waktu. Adapun syariah, hal ini selalu mengalami “penyesuaian” sesuai dengan kebutuhan dan taraf kehidupan dan peradaban umat manusia. Rasulullah saw mengemukakan dalam salah satu hadis yang artinya: “Aku dan rasul-rasul yang lain tak ubahnya bagaikan saudara sepupu, syariat mereka banyak, tetapi agama (aqidah) nya satu (yaitu mentauhidkan/mengesahkan Allah).” (Riwayat Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad)

Islam yang dibawa oleh rasul terakhir, Muhammad saw, berisi tentang pengakuan eksistensi syariat-syariat terdahulu, pelurusan syariat-syariat tersebut yang sudah melenceng jauh, serta penyempurnaan syariah tersebut disesuaikan untuk seluruh umat hingga akhir zaman. Firman Allah swt:

“Dan tidak semata-mata Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali, untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam” (al-Anbiya ayat 107)

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan Aku genapkan atasmu nikmatKu, dan Aku ridhoi Islam sebagai agamamu…” (al-Maidah ayat 3)

Sehubungan dengan eksistensi manusia, setidaknya ada dua fungsi manusia menurut Islam seperti diterangkan dalam Al-Quran. Firman Allah swt:

“”Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di bumi (penguasa-penguasa) dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadanmu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-An’aam ayat 165)

Firman Allah swt: “Dan tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (az-zaariyaat ayat 56)

Dalam rangka untuk melaksanakan fungsinya tersebut, yaitu tugas sebagai khalifah untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan serta tugas pengabdian maka manusia dibekali dengan dua hal yaitu berupa aturan (syariah) dan bekal sumber daya

Syariah menurut bahasa berarti “jalan yang menuju air”. Dari bentuk kata kerjanya yaitu syara’a berarti membuat tanda atau menggambarkan dengan jelas jalan kearah air. Dalam konteks agama, syariah berarti jalan menuju kehidupan yang baik atau sempurna. Dengan kata lain, syariah berarti jalan yang membawa kehidupan seseorang menuju kehidupan yang benar dan baik. Syariah tidak saja sebagai jalan menuju Allah tetapi juga diyakini sebagai jalan yang ditunjukkan oleh Allah melalui rasul-Nya, Muhammad saw. Kata syariah juga memiliki korelasi dengan kata dien yang berarti patuh, taat, atau mengikuti. Dengan demikian, maka subyek dari syariah adalah Allah yang telah menyediakan dan menunjukkan jalan, sedangkan subyek dari dien adalah manusia yang harus taat, tunduk, patuh, dan mengikuti jalan tersebut. Syariah sebagai bekal manusia berisi prinsip kehidupan yang lengkap. Syariah mengandung semua aspek yang secara positif dapat disebut hukum (al- ahkam) yang terdiri atas ketentuan-ketentuan dan regulasi dalm Islam. Terdapat lima kategori hukum dalam syariah, yaitu:

1. Fardu atau wajib; Ketantuan (tindakan) yang harus dilakukan oleh seorang

muslim yang jika dilaksanakan akan mendapat reward dan jika tidak

dilaksanakan akan mendapat punishment.

2. Sunnah, masnun, mandub atau mustahabb; Ketentuan (tindakan) yang

dianjurkan (recommended but not required). Yang jika dilaksanakan akan

mendapat reward tapi apabila tidak dilaksanakan tidak akan mendapat

punishment.

3. Jaiz atau mubah; Sesuatu yang diperbolehkan, tidak diperintahkan dan tidak

dilarang.

4. Makruh; Tindakan yang tidak dianjurkan dan dalam pelaksanaannya tidak

dihukum atau tidak dilarang atau dengan kata lain sebaiknya ditinggalkan.

5. Haram; Kebalikan dari fardu atau wajib, yaitu ketentuan (tindakan) yang

dilarang yang jika dikerjakan akan mendapat punishment.

Hukum-hukum syariah diambil dari empat sumber pokok. Sumber pertama adalah kitab suci umat Islam yaitu Al-Quran. Sebagai sumber dari segala sumber hukum, Al-Quran berisi pokok-pokok ketentuan yang bersifat universal, eternal dan fundamental. Landasan hukum kedua adalah hadis yang keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan Al-Quran itu sendiri. Hadis merupakan sekumpulan informasi baik berupa ucapan, tindakan maupun sikap (qaulun, fi’liyun, takririyun) Rasulullah saw terhadap berbagai masalah kehidupan yang sangat terjaga dan disampaikan dari generasi ke generasi. Sumber ketiga dari hukum syariah adalah Ijma’. Ijma berarti konsesus para mujtahid atau kesepakatan pendapat dari para ahli hukum Islam terhadap permasalahan atau pertanyaan yang dihadapi. Sumber keempat adalah Qiyas atau analogi. Qiyas merupakan proses yang diambil para mujtahid sehubungan permasalahan yang meragukan dengan cara membandingkan permasalahan tersebut dengan kasus-kasus yang kurang lebih serupa dan sudah ditetapkan dengan jelas baik dalam Al-Quran maupun hadis. Al-Quran dan hadis sering juga disebut sebagai dalil (argument) yang kebenarannya mutlak (al-adillat al-qa’iyyah) sedangkan Ijma dan Qiyas dikategorikan sebagai dalil (argument) yang dihasilkan dari pembahasan yang mendalam (ijtihad/examining and exercising) terhadap suatu permasalahan (al-adillat al-ijtihadiyah). Dengan keempat sumber hukum ini, syariah akan mampu berhubungan dengan kompleksitas dan dinamika kehidupan dunia dan akan dapat menangani berbagai macam permasalahan kehidupan modern. Keempat sumber ini secara formal diterima oleh seluruh ahli hokum baik itu Hanafi, Maliki, Syafi’I, maupun Hanbali. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, kadang ditemukan juga masalah-masalah yang tidak secara langsung dapat dipecahkan dengan merujuk pada keempat sumber tadi. Oleh karena itu, para ahli hukum Islam (fuqaha) mengenal juga sumber-sumber lain sebagai tambahan seperti ijtihad itu sendiri, ma’ruf atau ‘urf (adap kebiasaan setempat yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis), maslahah,mursalahah (pertimbangan dengan kemanfaatan), istihsan (pertimbangan demi kebaikan), dan istisab (pertimbangan terhadap sesuatu yang lebih disukai). Dari semua sumber hukum tembahan tersebut di atas, dalam pelaksanaannya tentu harus tetap berada pada koridor empat hokum yang pokok. Pelaksanaan syariah secara konsisten dalam semua aktivitas kehidupan akan melahirkan sebuah tatanan yang baik dan sejahtera (hayah at-toyyibah) sebagaimana dijanjikan Allah swt:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun

perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan

berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami

beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang

telah mereka kerjakan.”

(An-Nahl ayat 97)

Adapun penolakan terhadap syariah, baik seluruhnya maupun sebagian, atau keengganan untuk mengaplikasikannya dalam aktivitas kehidupan sehari- hari akan mengakibatkan ketidakselarasan dalam kehidupan sehingga terjadi disharmoni, kacau, merasa susah/sempit sebagaimana dikemukakan Allah swt:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya

baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya dalam

buta. Berkatalah ia, Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku

dalam keadaan buta padahal aku dulunya adalah orang yang melihat?

Allah berfirman, Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami,

maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun

dilupakan ” (Taha ayat 124-126)

Adapun yang dimaksud dengan sumber daya sebagai bekal adalah segala sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan Allah swt untuk kepentingan hidup manusia.

Firman Allah swt:

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk

kepentinganmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan

menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara

manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu

pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.”

(Luqman ayat 20)

bersambung….

About syahirwaan

Mahasiwa Akuntansi Unpad, Wirausahawan muda, dan Direktur Eksekutif Rumah Rakyat Indonesia (Lembaga Bantuan Sosial, Ekonomi dan Pendidikan)
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s